Tuesday, 28 February 2012

Checklist Pemeriksaan Tanda-tanda Vital


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
Jln. Tukad Balian No. 180 Denpasar Bali
FORMAT PENILAIAN
Mata Ajar : PKDK I
Kode Mata Ajar : C205KBK A1
Kompetensi : Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV)
Nama Mahasiswa :………………………………….
NIM :………………………………….
Program :……………………………………
Tingkat :………………………………….
A. TAHAP PERSIAPAN (20%)
1. Persiapan Perawat
Mempersiapkan diri perawat sebelum ke pasien (pengetahuan & penampilan)
2. Persiapan Pasien
a. Beri salam dan memperkenalkan diri
b. Identifikasi nama pasien
c. Menjelaskan tujuan tindakan
d. Menjelaskan langkah/prosedur yang akan dilakukan
e. Meminta pengunjung/keluarga meninggalkan ruangan
3. Persiapan Lingkungan
Menutup pintu, jendela atau memasang sampiran
4. Persiapan Alat
a. Tensimeter (sfigmomanometer dengan manset)
b. Stetoskop
c. Alcohol swab
d. Thermometer (oral, rectal dan axilla)
e. Handscoen/ sarung tangan
f. Jam tangan detik atau layar digital
g. Kertas tissue
h. Bengkok
i. Gel/ pelumas
j. Buku catatan dan alat tulis
Nilai : Jumlah Nilai x 20% =……………….
Total skor
B. TAHAP PELAKSANAAN PROSEDUR (30%)
(sudah disesuaikan dengan kondisi di ruang perawatan)
1. Cuci tangan dan pakai handcsoen
2. Jaga privasi pasien dengan menutup pintu atau memasang sampiran
3. Kaji kebutuhan klien sebelum dilakukan tindakan
4. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
5. Siapkan alat-alat sesuai kebutuhan pasien
6. Dekatkan alat-alat ke pasien
7. Lakukan prosedur pengukuran sesuai dg kebutuhan pasien
Pelaksanaan :
A. MENGUKUR SUHU (TEMPERATURE)
1. Suhu Oral
a) Cuci tangan
b) Bersihkan thermometer dari atas ke bawah dengan tissue dan pegang di bagian ujung atas
c) Turunkan batas angka pada termometer hingga menunjukkan angka 35C dengan cara
menggoyangkan-goyangkan termometer (posisi termometer saat membaca angka adalah sejajar
mata).
d) Minta pasien untuk membuka mulutnya. Masukkan bulb termometer di bawah lidah, menghadap sisi mulut
e) Minta pasien untuk menahan thermometer dengan bibir tertutup dan bukan dengan gigi selama
3-8 menit
f) Ambil thermometer (pegang bagian tangkainya) dan bersihkan dengan tissue dan alcohol swab
dari ujung batang ke ujung bulb thermometer (area bersih ke area yg kotor)
g) Baca termometer dan catat hasilnya
h) Kembalikan thermometer ke tempatnya, setelah diturunkan batas angkanya sampai di bawah
angka 350C
i) Perawat mancuci tangan
j) Mencatat hasil
2. Suhu Axila
a) Cuci tangan
b) Bersihkan thermometer dari atas ke bawah dengan tissue dan pegang di bagian ujung atas.
c) Membuka pakaian klien*
d) Bersihkan area pengukuran sampai kering dengan kertas tissue*
e) Meletakkan thermometer di bawah aksila dan tangan disilangkan
f) Mengangkat thermometer setelah 5 menit
g) Bersihkan thermometer dg tissue & acohol swab dr area bersih ke kotor.
h) Membaca thermometer sejajar dengan mata
k) Kembalikan thermometer ke tempatnya, setelah diturunkan batas angkanya sampai di bawah
angka 35C
i) Bantu klien memakai bajunya kembali*
j) Perawat mencuci tangan
k) Mencatat hasil
3. Suhu Rektal
a) Cuci tangan
b) Gunakan sarung tangan
c) Bersihkan thermometer dari atas ke bawah dengan tissue dan pegang di bagian ujung atas
d) Turunkan batas angka pada termometer hingga menunjukkan angka 35C dengan cara
menggoyangkan-goyangkan termometer (posisi termometer saat membaca angka adalah sejajar
mata).
e) Bantu pasien melakukan posisi sims (dewasa) dan tengkurap untuk anak-anak
f) Buka pakaian pasien namun tetap menjaga privasi pasien*
g) Oleskan pelumas/gel pada ujung thermometer (bulb)
h) Anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan relaksasi, kemudian masukkan bulb ke anus
sedalam 1-2 cm untuk anak, dan 3-5 cm untuk dewasa, anjurkan untuk menahan 2-4 menit
i) Jika thermometer terasa sulit masuk, jangan dipaksakan
j) Angkat thermometer dengan hati-hati
k) Ambil termometer (pegang bagian tangkainya) dan bersihkan dengan tissue kemudian alcohol
swab dari ujung batang ke ujung bulb termometer
l) Buang tisu dan alcochol swab ke bengkok
m) Baca termometer dan catat hasilnya
n) Kembalikan thermometer ke tempatnya, setelah diturunkan batas angkanya sampai di bawah
angka 35C
o) Perawat mancuci tangan
p) Mencatat hasil
B. MENGUKUR DENYUT NADI (PULSE)
1. Cuci tangan
2. Siapkan pasien pada posisi nyaman (terlentang/duduk)
- Jika pasien tidur terlentang, letakkan lengan depan menyilang di dada bawahnya.
Pergelangan tangan ekstensi dan telapak tangan telungkup
- Jika pasien duduk, tekuk sikunya 90o dan tahan lengan bawahnya dengan kursi atau
tangan. Pergelangan tangan ektensi dan telapak tangan telungkup
3. Letakkan 3 ujung jari (jari telunjuk, tengah dan manis) di atas nadi radialis
4. Ketika nadi teraba dengan teratur, gunakan sedikit tekanan di atas nadi radialis
5. Bila nadi teratur, hitung selama 15 detik (kemudian dikalikan 4) atau 30 detik dikalikan 2
6. Bila nadi tida teratur hitung selama 1 menit penuh
7. Perhatikan keteraturan antara denyut nadi satu dengan lainnya, dan tentukan pula kekuatan,
irama serta frekuensi adanya disritmia
8. Cuci tangan
9. Catat karakteristik nadi (frekuensi, kekuatan dan irama)
C. MENGUKUR PERNAPASAN (RESPIRATORI RATE)
1. Cuci tangan
2. Atur posisi yang nyaman untuk pasien
3. Hitung pernafasan waktu inpirasi pada dada atau perut selama 1 menit (pada orang dewasa
hitung pernafasan dalam 30 detik dan kalikan 2, dan bila tidak teratur hitung 1 menit penuh,
untuk bayi dan anak kecil hitung dalam 1 menit penuh)
4. Kaji kedalaman, irama dan bunyi pernafasan
5. Catat karakteristik pernafasan (frekuensi, kedalam irama dan bunyi)
D. MENGUKUR TEKANAN DARAH (BLOOD PREASURE)
Pelaksanaan :
1. Cuci tangan
2. Atur posisi yang nyaman untuk pasien.
3. Tentukan sisi terbaik untuk penempatan manset. Hindari ekstremitas dengan jalur IV
(intravena), trauma atau tempat yang mengalami trauma/paralisis
4. Letakkan lengan pasien dengan telapak tangan menghadap ke atas di atas tempat tidur atau
meja (dengan posisi lengan depan atas sejajar jantung)
5. Singsikan lengan baju pasien ± 12,5 cm di atas siku (di atas fossa cubiti). Bagian tengah
kantong karet manset, harus berada langsung di atas arteri brakialis (manset tidak terlalu ketat
dan longgar),dengan posisi manset 2-3 cm di atas antecubital.
6. Menghubungkan pipa tensi meter dengan pipa manset
7. Menutup skrup balon kuret
8. Membuka kunci reservoir
9. Letak tensimeter harus datar
10. Meraba arteri brachialis dengan 3 jari tengah
11. Pasang stetoskop di telinga dengan benar
12. Meletakkan bagian diagfragma stetoskop tepat di atas arteri brachialis (bagian corong tertutup)
13. Pompa dan naikkan air raksa hingga 30 mmHg lebih tinggi dari korotkof I (sistolik) yang terdengar
14. Mebuka skrup balon perlahan-lahan dengan kecepatan 2-3 mmHg perdetik sampai terdengar
bunyi korotkof I, II, III dan IV sampai bunyi menghilang, yaitu korotkof IV pada anak dan V pada
dewasa
15. Pada waktu melihat skala mata setinggi skala tersebut, bila hasilnya meragukan perlu diulang
kembali (tunggu 15-30 menit untuk pengukuran ulang)
16. Menurunkan air raksa sampai dengan 0 (nol) dan mengunci reservoir
17. Membuka pipa penghubung
18. Melepaskan manset dan mengeluarkan udara yang masih tertinggal di manset
19. Menggulung manset dan memasukkan ke dalam tensi meter
20. Merapikan pasien
21. Mengembalikan alat pada tempatnya
22. Mencuci tangan
23. Mencatat pada lembar catatan yang ada
24. Membuat grafik/kurve pada lembaran status pasien dengan tepat dan benar
25. Menggunakan waktu dengan efektif dan hemat energi
Nilai : Jumlah Nilai x 30% =……………….
Total skor
3.TAHAP AKHIR (10%)
1. Evaluasi perasaan klien (merasa aman dan nyaman) dan keluhan pasien
2. Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
3. Dokumentasikan prosedur dan hasil observas
Nilai : Jumlah Nilai x 10% =……………….
Total skor
4.EVALUASI (20%)
1. Pengetahuan terkait dengan ketrampilan
2. Pengetahuan terkait dengan kasus
3. Pengetahuan terkait dengan proses keperawatan
Nilai : Jumlah Nilai x 20% =……………….
Total skor
5.SIKAP (20%)
1. Bersikap ramah dan sopan
2. Berkomunikasi dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi klien
3. Bekerja dengan sistematis dan cekatan
4. Bekerja dengan teliti dan efisien
5. Menghargai privasi dan budaya klien
6. Memperhatikan keamanan dan kenyamanan klien
Nilai : Jumlah Nilai x 20% =……………….
Total skor

Tuesday, 4 October 2011

Kaitan Kunci antara Perilaku dan Lingkungan dalam Kasus DHF, HIV/AIDS, Kekerasan Remaja, dan Obesitas


1.       Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah kegemukan?
Jawab :
Lingkungan penyebab kegemukan diantaranya
-       Racun dari lingkungan seperti polusi dapat mengganggu aktivitas hormon yang memengaruhi pertumbuhan, sehingga dapat menyebabkan kegemukan
-       Pemanas dan Pendingin Ruangan menyebabkan hanya sedikit kalori dari tubuh yang digunakan untuk mengatur suhu tubuhnya sendiri
-       Perubahan Lingkungan Sosial. Seiring dengan pergeseran lingkungan sosial dan gaya hidup, kelompok dengan risiko tinggi terkena obesitas pun meningkat.
-       Faktor Genetik. Obesitas yang disebabkan oleh lingkungan pada generasi sebelumnya dapat tertanam di dalam gen generasi tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sesudahnya.
-       Pasangan dengan Tipe Badan yang Sama. Pasangan yang memiliki tipe tubuh mirip dengan pasangannya, yaitu sama-sama gemuk, berisiko menurunkan gen keturunan yang menyebabkan obesitas pada anaknya.
-       Faktor Kesuburan. Wanita yang badannya berisi lebih subur daripada wanita yang badannya kurus. Artinya, keturunan mereka mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mewarisi gen yang menyebabkan obesitas.
Perilaku penyebab kegemukan diantaranya
-       Menonton TV atau main game minimal 3 – 4 jam sebanyak 2-3 kali sehari.
-       Jarang melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, dan bersih-bersih beberapa kali per minggu atau perbulan
-       Jarang jalan kaki per minggu
-       Jarang melakukan olah raga sedang
-       Minum “jus buah” instan
-       Makan goreng-gorengan setiap hari
-       Minum soft drink setiap hari mempunyai pengaruh dalam meningkatkan peluang gemuk terutama pada kelompok umur 25 – 40 tahun
-       Mengonsumsi western fast food lebih dari sekali per minggu
-       Mengonsumsi permen dan kripik kentang seminggu lebih dari sekali
-       Mengonsumsi mie instan seminggu lebih dari sekali bagi anak laki-laki meningkatkan peluang gemuk hingga 2 kali lebih besar
-       Kurangnya waktu tidur yang dapat meningkatkan rasa lapar dan nafsu makan
-       Penelitian menunjukkan bahwa berat badan perokok lebih ringan dibandingkan dengan yang tidak merokok. Perokok yang menghentikan kebiasaannya itu cenderung meningkat berat badannya. Namun, merokok bukan cara untuk mengurangi berat badan.
-       Efek Samping Obat. Semua jenis obat yang biasa dikonsumsi seperti obat antidepresi, kontrasepsi, tekanan darah tinggi, dan diabetes dalam beberapa kasus dapat menyebabkan peningkatan berat badan yang sangat drastis.
-       Hamil Pada Usia Tua. Ibu yang hamil di usia tua, lebih cenderung untuk memiliki anak dengan kelebihan berat badan atau obesitas dibandingkan dengan ibu yang hamil di usia muda.
Yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku penyebab kegemukan adalah terletak pada gaya hidup (life style). Lingkungan yang mempunyai gaya hidup serba instan dan diikuti dengan perilaku yang instan, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan yang diabaikan, tidak bisa dihindari lagi, kegemukan akan menjadi masalah orang tersebut.

2.        Faktor-faktor apa yang mungkin mempengaruhi remaja dalam tindak kekerasan?
Jawab :
-       Menurut sosiolog Kartono, faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi remaja dalam tindak kekerasan antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh dunia luar yang kurang baik. Akibatnya, para orangtua mengeluhkan perilaku anak-anaknya yang tidak dapat diatur, bahkan terkadang bertindak melawan mereka. Konflik keluarga, mood swing, depresi, dan munculnya tindakan berisiko sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain di sepanjang rentang kehidupan.
-       Faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan
Alvarado :
1.   Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial
2.   Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
3.   Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah
ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
4.   Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
5.   Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
6.   Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
7.   Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
8.   Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
9.   Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau
lingkungan baru.
10. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau
melakukan kenakalan remaja.
Faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang ketat juga membuat remaja menjadi semakin rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.
3.        Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah demam berdarah?
Jawab :
Penyakit Demam Berdarah atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue dengan tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Virus yang banyak berkembang di masyarakat adalah virus dengue dengan tipe satu dan tiga.
Lingkungan penyebab penyakit demam berdarah diantaranya
-       Pengelolaan sampah padat yang kurang baik
-       Bak mandi/penampungan air, vas bunga dan tempat minum burung yang kurang mendapat perhatian atau jarang dikuras
-       Tumpukan kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah yang tidak terurus
-       Daerah dengan tingkat kelembapan yang sedang/cocok untuk berkembangnya nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus
Perilaku penyebab demam berdarah diantaranya
-       Tidak memakai kelambu di tempat tidur
-       Membiarkan sampah lembap berserakan
-       Menguras bak mandi dalam jangka waktu yang lama
-       Membiarkan tempat penampungan air dalam keadaan terbuka
-       Kurang menjaga kebersihan rumah
Jadi, kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah demam berdarah adalah apabila masyarakat yang berperilaku sembarangan terhadap lingkungannya dan membiarkan lingkungannya tersebut di jadikan tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti / Aedes albopictus, maka DHF akan mudah untuk menyebar.
4.        Apakah yang menjadi kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah HIV/AIDS?
Jawab :
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
Lingkungan penyebab HIV/AIDS diantaranya
-       Kemiskinan dan kemelaratan yang menyebabkan pelacuran dan penggunaan narkoba di seluruh dunia. Kemiskinan memaksa jutaan perempuan muda turun ke kota-kota besar menjadi pekerja seks komersial.
-       Lingkungan yang kurang mengetahui tentang kesehatan, misalnya para ibu di negara miskin. Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%.
Perilaku penyebab HIV/AIDS diantaranya
-       Penggunaan narkoba dan sejenisnya dengan memakai jarum suntik non steril secara bergantian
-       Tidak menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis yang berbeda-beda
-       Faktor ibu dengan HIV/AIDS yang menyusui anaknya
-       Penggunaan jarum tindik, jarum tatto, tranfusi darah yang tidak steril
Kaitan kunci antara lingkungan dan perilaku dalam masalah HIV/AIDS adalah kemiskinan serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan perlindungan diri adalah hal yang paling berpotensi dalam penyebaran HIV/AIDS. Walaupun ada beberapa ODHA yang memang dari keluarga kaya, namun kemungkinan dirinya tersebut miskin kasih sayang dari keluarga, ataupun memiliki tingkat stres yang sudah diambang batas. Jadi, kemiskinan disini bukan semata-mata hanya miskin dalam bentuk materi, melainkan dalam hal spiritual dan psikologi.